Penulis mengawali tulisan tentang Isra dan Mikraj ini dengan cara membedah makna keduanya menurut etimologi atau bahasa. Di dalamnya diuraikan penyebutan kata Isra dan Mikraj dalam Alquran. Kata “Isra” ( (إسراء berasal dari kata dasar “Sara” ( سرى ) yang mengandung arti سير الليل (berjalan di waktu malam). Luis Makluf (dalam Al-Munjid ) dan Ibnu Manzur (dalam Lisanul Arab ) menambahkan kata “Isra” berasal dari kata سَرى- سُرى - سَريَة . Maknanya adalah سير الليل عامته , yakni keumuman berjalan pada waktu malam hari. Selanjutnya Al-Zubaidi (dalam Tajul Arus ) menyebutkan sekalipun makna سرى secara implisit bermakna sebagaimana telah dijelaskan di atas, namun diujung firman-Nya : أسرى بعبده ليلا سبحان اللذي disebut lagi kata ليلا . Penyebutan kata tersebut hanya berfungsi sebagai penguat ( ta’kid ) saja. Akan tetapi menurut sebagian ulama sebagaimana dijelaskan Ragib al-Asfahani (dalam Al-Mufradat fi Garibil Quran ) kata أسرى b...
Sebentar lagi kita akan merayakan hari raya Idul Adha. Kenapa hari itu dikatakan hari raya Idul Adha? Yakub sebagaimana dikutif Ibnu Manzur (dalam Lisanul Arab ) berpendapat karena pada hari itu orang-orang berkumpul untuk menyembelih hewan, yakni kambing. Penyembelihan hewan kambing ini sebagai bentuk wujud mendekatkan diri kepada Allah. Hewan itulah dinamakan dengan hewan kurban. Kata “kurban” (bahasa Arab ditulis Al-Qurbanu ) berasal dari bahasa Arab, yakni qaruba yang berarti dekat. Makna asal kurban menurut penjelasan Ibnu Manzur berarti orang-orang mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mengalirkan darahnya melalui jihad. Tentunya jihad yang dimaksud di sini bermakna sempit, yakni mengangkat senjata di medan perang. Kemudian makna kurban tersebut berubah menjadi mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara menyembelih hewan sapi, kambing, dan unta. Hal inilah sebagaimana yang dialami melalui kisah kesabaran Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Sebelum membahas panjang lebar ter...
Kata “rezeki” sudah tidak asing bagi kita dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi kita sendiri meyakini bahwa semua semua makhluk yang hidup di muka bumi ini, telah ada yang mengatur rezekinya masing-masing, yaitu Allah, Sang Maha Pencipta (Surat Hud: 6). Demikian salah satu contoh ayat Alquran yang terkait dengan pengaturan rezeki oleh-Nya. Ayat tersebut sebagaimana dijelaskan Wahbah Zuhaili (dalam Tafsir Al-Wasit ) menegaskan bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki semua makhluk-Nya, tak terkecuali manusia. Namun, keberhasilan rezeki tersebut tidak menafikan adanya hukum kausalitas (sebab akibat), yakni usaha atau kerja keras masing-masing. Dialah, Allah Al-Razzaq (Yang Maha Pemberi Rezeki). Kemudian timbul pertanyaan, apa yang dimaksud dengan rezeki? Para ulama, seperti Luis Makluf (dalam Al-Munjid ), Ibnu Manzur (dalam Lisanul Arab :), Al-Zubaidi (dalam Tajul Arus ), Al-Fairuzabadi (dalam Kamus Al- Muhit ), dan Al-Jauhari ( Kamus Al-Sihah )...
Comments
Post a Comment